Sunday, April 12, 2015

PARENTING BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS ANAK



 Latar Belakang

            Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Bahasa ini merupakan bahasa ibu untuk lebih dari 400 juta orang diseluruh dunia (English First, 2014).  Penguasaan bahasa Inggris sangat penting karena hampir semua sumber informasi global dalam berbagai aspek kehidupan menggunakan bahasa ini (Durand, 2006:7). Bahasa Inggris mempunyai peranan yang sangat penting dalam memasuki era globalisasi. Fungsinya tidak hanya sebagai alat atau media untuk berkomunikasi antarbangsa tetapi semakin luas dan penting, yaitu sebagai bahasa di berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, sosial-ekonomi, budaya, bahkan seni Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris sejak dini sangat dianjurkan.
                Pendidikan bahasa Inggris akan sangat ideal jika dimulai sejak usia dini, terutama sebelum mereka menginjak umur 12 tahun. Hal ini disebabkan seorang anak memiliki periode emas untuk perkembangan bahasa anak. Mereka mampu belajar bahasa apapun seperti penutur aslinya dan sehingga periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Menurut teori Piaget (1920) periode tersebut adalah ketika anak berusia 2-7 tahun atau dalam tahap pra-operasional. Tahap ini semua objek dan kejadian direpresentasikan oleh simbol-simbol mental, egosentris yang tinggi, belum mengerti hal-hal abstrak, dan masih berpikiran pra-logis, serta belum dapat berpikir abstrak dan persepsi waktu dan tempat masih terbatas Tahap ini merupakan masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon berbagai macam stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Tahap ini juga merupakan masa pembentukan pondasi untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio-emosional, agama dan moral.
            Namun karena di Indonesia bahasa Inggris bukan merupakan bahasa ibu, tapi sebagai bahasa asing yang pertama. Anak-anak Indonesia akan mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Hal ini karena bahasa asing adalah bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum dalam interaksi sosial. Kedudukan bahasa Inggris di Indonesia tersebut mengakibatkan jarang digunakannya bahasa Inggris dalam interaksi sosial di lingkungan masyarakat sehingga bahasa Inggris merupakan bahasa yang sulit untuk dipelajari karena bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang tidak digunakan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
            Dengan demikian pembelajaran bahasa Inggris sejak usia dini memerlukan pendekatan dan strategi yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak. Di samping itu, perlu adanya peran serta orang-orang di lingkungan sekitar mereka, seperti orang tua, anggota keluarga lainnya, serta guru (Munandar, 1999). Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk memberikan petunjuk bagaimana peran orang tua, juga guru, dalam mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris anak.

Peranan Orang Tua dalam Perkembangan Bahasa Inggris Anak.
               
                Kemampuan berbahasa anak merupakan salah satu dari enam potensi anak yang harus dikembangkan sejak dini. Keenam potensi tersebut meliputi aspek kognitif/intelektual, fisik-motorik, bahasa, sosial-emosional serta pemahaman nilai-nilai moral dan agama (Catron dan Allen, 1999:23-26).  Peningkatan kapasitas penggunaan bahasa anak usia dini merupakan kunci perkembangan anak, utamanya bagi perkembangan konsep, generalisasi, dan kemampuan berpikir (Vygotsky, 1978). Kemampuan linguistik anak terdiri dari tiga komponen, yaitu: kemampuan fonologi, semantik dan kalimat. Ketiga komponen ini diperoleh anak secara serentak atau bersamaan.
            Dalam mengembangkan ketrampilan bahasa anak, peranan orang-orang di sekitarnya sangatlah penting. Hal ini diperlukan anak untuk melakukan interaksi dengan orang dewasa dan penutur lain yang lebih tua, serta memainkan peranan yang penting dalam mendukung perkembangan kemampuan berkomunikasi anak (Bredekamp dan Copple, 1999:100).
            Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal itulah yang disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa anak menurut  Krisanjaya (1998) mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang dimulai dari tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikasi,bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis).
            Dalam perkembangannya, kemampuan berbahasa tidak hanya meliputi kemampuan bicara saja. Anak juga harus menguasai kemampuan mendengar. Menurut Askouri (2011), cara yang paling sederhana dalam mengajarkan kemampuan mendengar adalah dengan mengurangi gangguan ketka berbicara kepada anak, misalnya dengan mematikan televisi terlebih dahulu dan mendekat ke anak sebelum berbicara. Selain keterampilan mendengar, pada usia 2-4 tahun, anak juga mengembangkan kemampuan awal untuk berbahasa tulisan atau membaca. Orang tua hendaknya mencoba untuk menggunakan kata-kata yang tertulis di sekitar anak. Misalnya, tulisan namanya, nama merk susu atau biskuit, dan sebagainya. Anak pun akan senang melakukan kegiatan menggunting huruf-huruf yang ia temukan dan menempelnya.
                Dengan melihat perkembangan bahasa anak pada usia 2 tahun, orang tua dapat memprediksi kinerja anak-anak pada saat ia masuk ke sekolah dasar. Pemahaman dan penggunaan kosa kata dan penggunaan dua atau tiga kalimat kata pada anak usia 2 tahun ini serta lingkungan berkomunikasinya sangat terkait dengan kinerja mereka memasuki sekolah dasar daripada faktor latar belakang sosial-ekonomi kelauarga si anak (Roulstone, dkk., 2010: 3).
                Kegiatan berbahasa juga erat kaitannya dengan buku. Pemahaman akan buku merupakan dasar yang penting bagi aktivitas pra-membaca. Berikan berbagai macam buku meskipun anak belum bisa membacanya. Pada usia sekitar 3 tahun, anak sudah mulai dapat memahami bahwa judul buku berada di bagian depan. Keterampilan berbicara anak juga berkembang pesat. Ia tidak hanya berbicara untuk mengekspresikan dirinya, tetapi juga bertujuan untuk mendapatkan informasi, misalnya sering ia berntanya, Kenapa?” Itu dilakukannya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Perkembangan bahasa anak tampak dari bahasa sehari-hari yang digunakannya. Ia mulai mampu memberikan gambaran atas suatu situasi atau benda dengan menggunakan kata-kata. Tak hanya itu, ia pun mulai dapat bercakap-cakap dengan anak seusianya, juga dengan orang dewasa. Kalau hal ini dilakukan terus-menerus, maka akan merangsang kemampuannya berkomunikasi. Kemampuan berkhayalnya pun berkembang dengan baik. Anak menyenangi kegiatan bermain peran.
            Kegiatan yang dapat dilakukan untuk merangsang perkembangan bahasa anak pada usia ini adalah: (a) Percakapan mengenai tayangan televisi atau film yang ditonton anak, misalnya dengan bertanya kepada anak siapa tokoh  yang ada di dalam cerita dan bagaimana jalan cerita itu, (b) Menggunakan kata posisi di dalam kalimat dan membantu anak untuk memahami arti kata-kata di atas, di dalam, dan di bawah dengan menunjukkannya benda nyatanya, (c) Bersenang-senang sambil membaca buku dan berdiskusi mengenai buku yang dibaca, (d) Berbincang-bincang tentang hasil karya anak serta memberi tanggapan yang positif.
            Pada usia 3-4 tahun perkembangan bahasa anak terus berlanjut, anak menggunakan kata dan kalimat yang mendekati sempurna. Anak akan menyampaikan apa saja yang diketahuinya kepada orangtuanya. Ia mengkombinasikan kata, gerak tubuh, dan mimik wajah untuk membuat pembahasan yang disampaikannya menarik. Yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk merangsang perkembangan bahasa anak pada rentangan usia ini adalah: (a) Memberikan perintah yang lebih sulit dan mengajukan permintaan dengan dua atau tiga informasi, (b) Mengajak anak bermain pura-pura dengan menggunakan boneka tangan, (c) Menggunakan foto yang menarik dan ajak anak bercerita menggunakan foto tersebut , (d) Bermain huruf-huruf dengan menggunakan guntingan huruf dari kardus atau kalender, lalu meminta anak menyusun namanya, dan (e) Menjelaskan apa yang dirasakan.
            Dalam bukunya Frames of Mind, Gardner dalam Champbell (2002) mendeskripsikan karakteristik dari anak yang memiliki kecerdasan bahasa (linguistic intelligence) yang merupakan salah satu dari delapan (masing-masing multiple intelligences (kecerdasan ganda) sebagai berikut. Kecerdasan bahasa adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Karakteristik yang biasanya dimiliki oleh seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik baik, yaitu: (a) mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna dan berbagai ungkapan kata, (b) menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang lain, dan (c) belajar melalui menyimak, membaca, menulis dan berdiskusi, (d) sangat hafal nama, tempat dan tanggal, (e) menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri, (f) mengeja kata-kata dengan mudah dan cepat, (g) menyukai pantun, puisi lucu dan permainan kata, (h) suka mengisi teka-teki silang, (h) menikmati dan mendengar kata-kata lisan, cerita buku dan radio, (i) menggunakan kosa kata yang lebih luas dari anak seusianya, dan (j) unggul dalam pelajaran membaca dan menulis.
            Dalam proses pengembangan kemampuan bahasa anak, peranan orang tua sangatlah besar. Yang diperlukan dari orang tua adalah bagaimana memberikan perhatian kepada anak-anak agar mereka bisa mengembangkan bakat dan potensinya dengan baik. seberapa jauh anak merasa diperhatikan, diberi kebebasan atau kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya, dihargai hasil karya atau prestasinya, didengar isi hatinya, tidak ada paksaan atau tekanan, ancaman terhadap dirinya dan mendapatkan layanan pendidikan sesuai tingkat usia dan perkembangan kejiwaannya (Hartono, 2013).
                Kualitas interaksi antara orangtua dan anak sangat signifikan perannya Hal ini dapat tercermin dari bahasa yang digunakan anak, dan yang secara sengaja atau tidak sengaja meningkatkan ketrampilan dan kemampuan berbahasa anak. Ada empat aspek penting dari input
orangtua, menurut Kumara (2000) yaitu: (a) pemelihara perhatian yaitu sewaktu orangtua dan anak mengerjakan objek dan atau membahas topik yang sama; (b) pemeliharaan topik yaitu sewaktu orangtua melanjutkan tetap memberi komentar, maupun mengancam terhadap anak, daripada mengabaikan mereka atau mengubah topiknya; (c) sosialisasi secara rutin yaitu sewaktu orangtua merancang suatu kondisi sedemikian rupa sehingga situasi atau ungkapan verbal yang diharapkan dikenal dan dapat diduga oleh anak, dan (d) memberikan contoh yaitu sewaktu orangtua memberikan tanggapan atas perbuatan anak dengan menggunakan bahasa yang tepat. Demikian pula halnya dengan dukungan, dorongan, dan rutinitas pemberian kebiasaan membaca dan menulis, meningkatkan perkembangan secara signifikan kemampuan berbahasa anak, membaca dan berbagi pengalaman tentang buku sebagai kegiatan sehari-hari dan rutin.
            Hal di atas juga berlaku untuk pembelajaran bahasa Inggris anak. Peranan orang tua dalam kecerdasan anak meliputi peran orang tua sebagai “pendamping yaitu subjek memberikan perhatian dengan membantu anak jika mengalami kesulitan, memberikan kebebasan meski tetap dibatasi waktu, menjadi teman bermain dan membacakan buku cerita untuk anak serta peran orang tua sebagai guru dengan mengetahui kemampuan anak, menciptakan lingkungan fisik dan bahasa, memberi motivasi dan membimbing anak serta memberi contoh atau cara pengerjaannya kepada anak serta subjek dapat menjadi model untuk anak.” (Setiawati, n.d).

Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak
            Ada beragam strategi yang bisa digunakan untuk merangsang pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak dikarenakan adanya berbagai macam konteks dan kondisi agar perkembangan bahasa Inggris anak merupakan suatu proses yang bermanfaat, menarik, dan menyenangkan bagi anak. Di antaranya adalah apa yang dikemukakan oleh Copland dkk. (2012):
1.      Penggunaan bahasa Inggris untuk anak.
Bagi banyak anak Indonesia, satu-satunya sumber paparan bahasa Inggris adalah orangtua/guru. Oleh karena itu, disarankan kepada para orang tua/guru untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang mungkin untuk menggunakan/berbicara bahasa Inggris kepada anak.  Namun, ini tidak berarti bahwa bahasa Inggris orang tua/guru harus sempurna atau bahwa mereka harus berbicara bahasa Inggris sepanjang waktu. Penggunaan bahasa ibu anak kadang-kadang lebih efektif dan tidak bisa dihindari. Orangtua/guru harus dapat mengetahui kapan harus menggunakan bahasa Inggris atau bahasa ibu anak.
Orang tua/guru tidak bisa mengharapkan anak-anak untuk selalu menggunakan bahasa Inggris sepanjang waktu.  Namun, anak-anak dapat didorong untuk menggunakan bahasa Inggris pada saat melakukan aktivitas pembelajaran dengan orang tua/guru, dengan rekan-rekan mereka baik secara berpasangan maupun kelompok. Namun, jika anak-anak menggunakan bahasa ibu mereka dalam kegiatan tersebut, tidak harus dianggap sebagai masalah. Yang penting mereka menggunakan bahasa Inggris kapan saja dibutuhkan. Ini merupakan hal yang penting yang harus dipahami orangtua/guru dan anak-anak sendiri. Juga hal ini dapat berguna bagi orang tua/guru untuk tetap dapat memelihara dan mengembangkan bahasa ibu dan budaya asli anak itu sendiri.
2.      Aktivitas pembelajaran bahasa Inggris
Aktivitas pembelajaran bahasa Inggris yang dapat digunakan, misalnya Story Telling (bercerita), Role Play (bermain peran), Art and Crafts (Seni dan Kerajinan Tangan), Games (Permainan), Show and Tell (melihat dan menceritakan), Music and Movement (Gerak dan Lagu), Listen and Repeat (mendengar dan menirukan). Diharapkan dengan melakukan aktivitas-aktivitas ini, anak-anak dapat berpartisipasi aktif baik secara individual, berpasangan, maupun kelompok. Aktivitas berpasangan/berkelompok akan membangun komunikasi yang positif bagi perkembangan bahasa anak.
3.      Peranan orang tua/guru
Orang tua/guru memainkan peran penting dalam menciptakan suatu lingkungan di mana anak-anak merasa senang untuk mencoba kemampuan bahasa Inggris mereka serta mendorong anak-anak dan memuji upaya mereka. Orangtua/guru perlu memiliki keyakinan akan kemampuan berbicara bahasa Inggris mereka sendiri, apa pun tingkatannya. Jika anak-anak melihat orang tua/guru mereka berbicara bahasa Inggris dengan antusiasme dan rasa percaya diri, tidak khawatir tentang membuat kesalahan atau mengetahui setiap kata, maka anak akan memiliki model yang sangat positif untuk menggunakan bahasa Inggris sendiri. Orang tua/guru seyogyanya dapat memainkan peran mereka dalam memberikan jenis kegiatan yang menyenangkan dan menarik yang dapat memotivasi anak-anak untuk menggunakan bahasa Inggris.
4.      Materi pembelajaran
Anak-anak biasanya tertarik pada diri, keluarga, makanan, hewan peliharaan, mainan dan lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat membantu orang tua/guru untuk merencanakan topik untuk memotivasi dan melibatkan anak. Sebagai contoh adalah untuk menunjukkan bagaimana minat pada makanan, orang tua/guru dapat menyajikan cerita yang berhubungan dengan makanan  sehingga dapat memberikan pengalaman dan kegiatan pembelajaran dimana anak melihat, merasakan, menyentuh, membaui secara langsung. Orang tua/guru dapat juga berkonsultasi dengan mereka dan melibatkan mereka untuk menetukan materi/topik selanjutnya. Karena anak suka dengan hal-hal yang lucu, orang tua/guru dapat menggunakan humor atau permainan bahasa dalam lagu, puisi, teka-teki dan sebagainya, agar anak-nk dengan mudah dapat megingat materi yang diberikan.
5.      Pemberian penghargaan untuk anak
Penghargaan dapat diberikan orang tua/guru kepada anak yang berperilaku baik atau dapat melakukan sesuatu yang diperintahkan kepadanya dengan sangat baik. Namun apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus, orang tua/guru perlu mempertimbangkan efek manfaat pada anak-anak. Jika anak-anak yang sama terus-menerus mendapatkan suatu hadiah/imbalan, hal ini dapat mengurangi semangat/motivasi anak lainnya dan bisa memiliki efek negatif pada dinamika kelompok.
  
Kesimpulan

            Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa (1) anak-anak harus melalui beberapa tahap ketika belajar bahasa Inggris sebagai bahasa baru bagi mereka, Beberapa anak melewati tahap ini lebih cepat daripada yang lain, mereka juga memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda, sehingga memahami tahapan anak belajar bahasa ini sangat penting bagi orang tua/guru untuk perencanaan kegiatan pembelajaran bahasa yang tepat, (2) peranan orang tua/guru sangatlah penting dalam perkembangan bahasa Inggris anak dan membantu anak-anak maju ke tahap yang lebih tinggi, (3) Orang tua/guru juga harus dapat tetap mempertahankan bahasa ibu dan budaya asli mereka pada saat mereka mempelajari bahasa Inggris agar mereka tetap dapat melakukan interaksi sosial dengan masyrakat di lingkungan sekitar mereka, (4) Anak-anak belajar tentang dunia karena mereka mengalaminya, sehingga orang tua/guru hendaknya dapat menciptakan lingkungan dan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan konteks dunia nyata mereka dan yang memungkinkan mereka mengeksplorasi dan menggunakan bahasa Inggris mereka, serta yang sesuai dengan tahap perkembangan perkembangan kognitif, spasial, motorik, bahasa, sosial mereka.
             
Daftar Pustaka

Bredekamp, Sue dan  Copple, Carol. (1999). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs. Washington, D.C.: National Association for the Education of Young Children.

Catron, C.E. dan Allen, J. (1999). Early Childhood Curriculum A Creative-Play Model. New
               Jersey: Merill, Prentice-Hall.

Copland, Fiona, Garton, Sue, dan Davis, Monika (eds). (2012). Crazy Animals and Other Activities for Teaching English to Young Learners. London: British Council.

Durand, C. X. (2006). If it’s not in English, it’s not worth reading! Current Issues in Language Planning, 7(1), 44–60.


Hartono, Edi (2013). Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Potensi Anak. Diunduh dari http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/11/peran-orang-tua-dalam-mengembangkan-potensi-anak-575842.html tanggal 24 Feruari 2014.

Krisanjaya. (1998). Teori Belajar Bahasa, Pemerolehan Bahasa Pertama. Jakarta. IKIP
               Jakarta.

Kumara, Amitya. (2000). Peran Aktif Orang Tua terhadap Ekspresi Tulis Anak. Jurnal Psikologi, 1, 1-9.

Masykouri, Alzena. (2011). Mengasah Kemampuan Bahasa Anak. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Nasional.

Munandar, Utami.(1999) Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Roulstone, Sue, Law, James, Rush Robert, Clegg, Judy, dan Peters, Tim. (2010). Investigating the role of language in children’s early educational outcomes: Research Report. UK Department for Education.

Setiawati, Riani. (n.d). Peranan Orang Tua dalam Mengembangkan Multi Intelligences Anak. Artikel tidak dipublikasikan. Jakarta: Universitas Guna Darma.

No comments:

Post a Comment